Pemerintah Tiongkok (Cina) dewasa ini dihubungkan dengan sistem perekonomiannya, dimana doktrin politik komunis dipadukan dengan bentuk kapitalisme terbatas. Memanfaatkan arus modal asing yang besar, sebagian besar daerah pesisir Cina memperoleh tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 2 digit beberapa tahun terakhir. Manufaktur dalam berbagai industri melaju dengan cepat dari tingkatan abad ke-19 yang terbelakang ke teknologi tinggi hanya dalam beberapa tahun. Pendapatan perkapita meningkat tajam. Tidak ada yang meragukan keteguhan wirausaha orang-orang Cina, namun semua ini belum cukup baik.
PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN CINA
Ketika raja Shih Huang Ti berkuasa, Cina menggunakan sistem Feodal. Perhatian raja terhadap kontrol perekonomian menjadi tolak banding dimana semua raja di asia lainnya akan mengukur kompetensi mereka. Namun setelah dinasti Han berkuasa, Cina menderita disintegrasi perekonomian sehingga sistem feodal juga runtuh diiringi dengan invasi asing secara periodik yang mendasari dan membawa sistem perekonomian yang seluruhnya berbeda.
Ketika Cina meluncurkan reformasi ekonominya dan mulai membuka diri terhadap investasi asing hampir 30 tahun lalu, Pemerintah Cina menghadapi banyak tantangan untuk mengubah perekonomian yang boleh dikata langka dalam segalanya. Di zaman itu barang konsumsi diatur dengan sistem penjatahan yang ketat. Sekarang ini Pemerintah Cina menghadapi kelebihan kapasitas produksi bukan masalah meningkatkan produksi.
Jalan Cina menuju transisi ekonomi dan ideologi dimulai pada Sidang Pleno Ketiga (Third Plenum) dari kongres Partai Komunis Cina ke 11 pada tahun 1978 ketika Deng Xiaoping menggulingkan pengganti Mao, Hua Guofeng. Kebijakan "Pintu Terbuka" diambil bersamaan dengan reformasi yang membawa kepada "chengbaozhi" atau sistem "Tanggung Jawab Diri", Tahapan pertama dalam evolusi usaha swasta. Menjelang tahun 1982, ketika diadakan Kongres Partai ke 12, chengbaozhi telah meraih momentum di seluruh penjuru negara. Pasar bebas mulai berkembang dan program reformasi Deng berjalan dengan sendirinya. Tahun 1987 di Kongres Partai ke 13, Deng kembali memperkenalkan satu lagi tantangan berani terhadap para penganut ideologi yg lebih konservatif. Deng menyatakan bahwa Cina bukan semata-mata hanya negara Komunis, melainkan juga sebagai negara Sosialis. Sambil mengakui jasa-jasa idealistik dari sosialisme, Deng mendorong sasaran berupa mencapai sosialisme sejati ke masa depan yg belum bisa diramalkan.
Efek-efek samping dari inisiatif Deng yang berani memicu inflasi, korupsi, dan pada gilirannya, protes terhadap keduanya mengakibatkan pembekuan kredit sebagai reaksi dari lembaga pemberi pinjaman internasional sehingga mengakibatkan mengeringnya investasi asing dan pertumbuhan melambat. Untuk menghidupkan reformasi kembali, Deng mengukuhkan prinsip Deng yang baru berupa "membangun perekonomian pasar sosialis dengan ciri-ciri Cina" sebagai mandat baru dari Partai Komunis Cina. Tokoh Cina lain yang bernama Jiang Zemin menyatakan bahwa ide kepemilikan publik tidak harus dibatasi pada kepemilikan negara dan secara terbuka mengakui pentingnya sektor swasta dalam perekonomian Cina. Jiang mengumumkan sebuah program menyeluruh menyangkut reformasi pemeliharaan kesehatan, pensiun, perbankan, keuangan dan kesejahteraan sosial yang diperlukan untuk mencapai sasaran yg ambisius dan jauh jangkauannya.
Pada tahun 1970-an, Cina diperingkat ke 11 perekonomian terbesar di dunia. Tahun 2000an menjadi peringkat ke-7. Program yg dicanangkan di awal abad ke 20 ini mencakup pembukaan daerah pedalaman Cina lewat program infrastruktur negara untuk mendorong investasi domestik maupun asing. Setelah itu pemerintah Cina berencana menarik perusahaan di pesisir yang lebih sukses untuk melakukan investasi komersil di pedalaman.
Memasuki abad ke-21, Cina semakin menjadi fokus perhatian dunia karena perkembangan serta reformasi ekonomi selama 30 tahun terakhir. Saat ini ekonomi Cina menempati posisi kedua di bawah Amerika Serikat sebagai Negara dengan Perekonomian Terbesar di Dunia dengan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar US$ 10 triliun sedangkan PDB Amerika sebesar US$ 17,5 triliun.
STRATEGI EKONOMI CINA
Pada tahun 1979, satu tahun setelah mengumumkan kebijakan pintu terbuka, Undang-undang Usaha Modal Patungan Cina Asing (Chinese-Foreign Equity Joint Venture Law) diberlakukan oleh Kongres Partai Nasional menjadi perundangan pertama yang berkaitan dengan investasi asing langsung. Proses perampingan perundangan yg menyangkut investasi asing dan perdagangan ini akan membutuhkan amandemen/perubahan.
Pada tahun 1998, Perdana Menteri Cina Zhu Rongji memperkenalkan program ambisiusnya berupa reformasi menyeluruh yang ia gambarkan sebagai Yige Quebao, Sange Daowei,dan Wuxiang Gaige atau "Satu Jaminan, Tiga prestasi, dan Lima Pokok Reformasi".
- "Satu Jaminan" ini sesungguhnya terdiri dari 3 unsur kunci yaitu mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi; inflasi yg rendah; dan menjaga kestabilan nilai mata uang.
- "Tiga Prestasi" terdiri dari 3 sasaran kerangka kera dari sebuah program reformasi yaitu mengubah status usaha-usaha milik negara yg berskala besar dan menengah dari rugi menjadi untung; perbaikan besar-besaran terhadap sistem perbankan dan keuangan Cina; perampingan birokrasi pemerintah Cina.
- "Lima Pokok Reformasi" melibatkan pendistribusian gandum, peningkatan modal, perumahan, perawatan medis, dan perbaikan besar-besaran terhadap sistem keuangan dan perpajakan Cina. Untuk menjadikan "Tiga Prestasi" menjadi kenyataan maka "Lima Pokok Reformasi" perlu diberlakukan sekaligus menjawab persoalan yg saling terkait juga menyingkirkan hambatan-hambatan yg masih tersisa dalam memperdalam reformasi ekonomi Cina.
Mempersiapkan diri untuk WTO dan tekanan kompetitif tambahan yg diakibatkannya memaksa pemerintah Cina mempercepat proses rasionalisasi struktur industrinya. Jadi prioritas pemerintah Cina adalah menunjang kegiatan ekonomi dengan segala cara, agar tingkat pertumbuhannya tetap berada di tingkatan yang diperlukan untuk memastikan stabilitas sosial. Cina berada di tengah-tengah tahapan pengembangan teknologi serta solusi otomasi industri yang maju adalah unsur-unsur mendasar dan diperlukan bagi pertumbuhan Cina yang berkesinambungan serta daya saing globalnya. Semenjak Cina baru didirikan, Cina telah secara konsisten mencurahkan diri untuk mengembangkan perdagangan atas prinsip kesamaan dan saling menguntungkan lewat kerjasama ekonomi dan teknologi dengan berbagai negara serta wilayah di dunia. Semenjak reformasi dan kebijakan pintu terbuka, perdagangan luar negeri Cina telah berkembang pesat. Komoditi Cina, dengan harga yang rendah dan kualitasnya yang tinggi umumnya disambut oleh bangsa-bangsa seluruh negara di dunia. Mitra dagang Cina tersebar di seluruh dunia. Sekarang ini, investasi-investasi di Cina berasal dari lebih dari 180 negara. Diantara 500 perusahaan top dunia, kira-kira 400 telah berinvestasi di Cina. Sekarang ini ekonomi dan perdagangan luar negeri Cina yang berkembang pesat telah menjadi bagian penting dari perekonomian nasional.
Faktor-faktor Utama yang melandasi kesuksesan Cina adalah :
- Konsisten menerapkan kebijakan keuangan yang proaktif, yang telah memainkan fungsi yg sangat penting dalam merangsang pertumbuhan ekonomi, terutama dalam mengintensifkan konstruksi infrastruktur yg telah membuka pasar bagi industri-industri tradisional.
- Memperkuat konstruksi sistem perlindungan sosial untuk merangsang meningkatnya konsumsi. Langkah ini mencakup meningkatkan pembayaran dana pensiun kepada para pensiunan, meningkatkan dukungan terhadap standar hidup yg mendasar bagi para pekerja, meningkatkan upah para karyawan,serta meningkatkan harapan psikologi para pekerja.
- Menerapkan kebijakan keuangan yg stabil. misalnya menerapkan kebijakan pengurangan pajak sehingga mendorong ekspor di berbagai bidang
- Meningkatnya masukan dalam bidang pendidikan, IPTEK yang telah mendorong pengembangan industri-industri berteknologi tinggi.
- Mereformasi Usaha Milik Negara yaitu mereorganisasi sebagian perusahaan, menerapkan sistem kepemilikan sahan dan mendaftarkannya di bursa saham, intensifikasi manajemen yang mantap.
PETA PEREKONOMIAN CINA
Cina atau sekarang disebut dengan Tiongkok merupakan negara peringkat ke 4 terbesar di dunia setelah Rusia, Kanada dan Amerika Serikat. Dan wilayahnya mencakup daratan yang sangat luasdi bekas peradaban lembah sungai Kuning. Di Cina, musim kemarau sangat panjang sehingga pertaniannya sangat rendah. Cina terkenal sebagai tempat produksi berbiaya rendah untuk menjalankan aktifitas pengilangan, dan ketiadaan serikat pekerja amat menarik bagi perusahaan-perusahaan asing terutama karena banyaknya tenaga kerja murah. Buruh-buruh di Cina seringkali ditindas oleh para majikannya karena tidak ada undang-undang yg bisa melindungi hak mereka.
Pada kuartal pertama tahun 2000, indikator-indikator ekonomi Cina menunjukkan perbaikan yang berarti. Dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 1999, Produk Domestik Bruto (GDP) meningkat 8,1% dan nilai tambah industri meningkat 10,7%. Lebih lanjut, efisiensi yang lebih besar dan hasil-hasil yang bermanfaat sangatlah terbukti dari peningkatan sebesar 23,8% dalam pendapatan keuangan serta peningkatan keuntungan yg dibukukan sebesar 200% untuk perusahaan-perusahaan industri. Diperkirakan oleh CIA pada 2002 bahwa agrikultur menyumbangkan sebesar 14,5% PNB Cina, industri dan konstruksi sekitar 51,7% dan jasa sekitar 33,8%. Pendapatan rata-rata pedesaan sepertiga di daerah perkotaan.
Bergabungnya Cina dengan WTO menyebabkan perampingan besar-besaran untuk memperjelas dan merasionalisasikan peraturan-peraturan departemen yang seringkali tidak sejalan. Walaupun proses ini dalam jangka pendek membawa kepada kebingungan dan bahkan frustasi bagi para investor asing yg menginginkan kejelasan untuk bidang investasi. Namun hasil akhirnya akan menjadi sebuah sistem untuk berinvestasi yang lebih jelas, lebih sederhana, dan jauh lebih lugas serta mudah dipahami.
Yang sangat penting yaitu dihapuskannya pembatasan-pembatasan terhadap sektor-sektor kunci seperti telekomunikasi, infrastruktur, perbankan, asuransi dan jasa-jasa, terlepas dari proses perkenalan yg dibutuhkan akan memungkinkan partisipasi asing yg lebih besar di sektor yg sebelumnya tertutup. Pentingnya keanggotaan WTO tak dapat disepelekan dalam hal ini, karena sudah mengirimkan isyarat positif kepada para investor institusional maupun investasi atau penyediaan jasa-jasa multinasional di pasar ini, sehingga membuka gerbang bagi arus masuknya investasi asing di tahun-tahun mendatang.
Arus masuk investasi seperti itu pada gilirannya akan merangsang perubahan-perubahan yg lebih besar dan mendorong bukan saja perekonomian Cina, melainkan juga transisi sosialnya, perubahan sikap dan pada gilirannya perubahan-perubahan psikologis akan menyusul. Hingga tingkatan yang berarti transisi hukum, politik dan institusional yg sekarang ini terjadi mencerminkan momentum yg sudah berjalan
Sumber :
- Buku China's Century (Laurence J. Brahm)
- Buku Memahami Ekonomi Internasional (Jeffrey E. Curry)
- https://id.wikipedia.org/wiki/Republik_Rakyat_Tiongkok
