Krisis Ekonomi yang berkepanjangan membuat sebagian besar perusahaan di Indonesia masih mengedepankan peningkatan efisiensi. Padahal, untuk bisa survive dan memenangkan persaingan di masa depan, mereka harus membuat strategi untuk mengantisipasi lingkungan bisnis yang berubah sangat cepat.
Ketidakstabilan politik, ketidakpastian ekonomi, rendahnya law enforcement, restrukturisasi perbankan dan sektor riil berjalan lamban serta rupiah yang terus terpuruk memang bisa membuat frustasi pelaku bisnis. Sebab, dalam kondisi seperti itu, masa depan bisnis juga ekonomi nyaris tak bisa diramal, sehingga mereka sulit melangkahkan kaki untuk mengembangkan bisnis. Tak dapat dipungkiri, tantangan ke depan yang dihadapi perusahaan di Indonesia tidaklah ringan. Meski sekedar mempertahankan pasar.
Itu merupakan tantangan dari sisi makro. Dari sisi mikro (sektor bisnis), tantangan yang dihadapi pelaku bisnis juga tidak ringan. Sekarang, produk-produk luar negeri menjelajahi pasar dalam negeri karena adanya penurunan maupun penghapusan bea masuk impor. Jelas, ini ancaman bagi perusahaan yang belum mampu menghasilkan produk secara lebih efisien. Belum lagi hadirnya pemain-pemain baru yang memenetrasi pasar secara lebih agresif.
Dengan tantangan yang lebih berat dan ancaman yang makin tinggi, tentu tak seharusnya para pelaku bisnis tak berdiam diri, menunggu keadaan membaik. Jika ini sampai dilakukan, sama halnya dengan menggali kubur sendiri. Apalagi masalah-masalah di bidang politik, ekonomi, dan hukum tidak akan terselesaikan dalam 2-3 tahun. Syukurlah, banyak perusahaan yang menyadarinya. Mereka menggelar sejumlah rencana strategis dengan tujuan mempertahankan atau bahkan meningkatkan pasarnya. Dan ini tidak hanya dilakukan saat mengalami kesulitan atau merebut pasar karena pangsa pasarnya yang masih kecil. Perusahaan yang posisinya di pasar sudah mapan dan bisnisnya tengah tumbuh meski di saat krisis-pun siap mengubah strategi bisnisnya.
Tingkat kompetisi yang kian tinggi dan rendahnya daya beli masyarakat, memang mengharuskan perusahaan berupaya menekan segala biaya agar dapat menjual produk dengan harga yang terjangkau masyarakat, tetapi perusahaan masih tetap untung. Strategi bisnis lain yang banyak ditempuh perusahaan yaitu menjaga loyalitas dan mempertahankan pelanggan (customer loyalty). Ini banyak dilakukan perusahaan di industri penerbangan sipil, perhotelan, kosmetik, rumah sakit, asuransi, dll. Maklum, di sektor inilah umumnya terbentuk pelanggan yang loyal terhadap suatu merek. Perusahaan menjalankan strategi ini karena juga didorong oleh makin ketatnya kompetisi dan berkurangnya disposable income konsumen, sehingga mempertahankan pelanggan yang ada merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Strategi fokus atau refocusing business juga menjadi prioritas penting bagi sejumlah perusahaan. Ini dilakukan oleh perusahaan di industri perbankan, ritel elektronik, penerbangan sipil dan garmen. Tak menutup kemungkinan, perusahaan di industri lain melakukan hal yang sama. Strategi ini dimaksudkan untuk meningkatkan profitabilitas (memperkecil overhead cost) sekaligus menekan cost of fund melalui peningkatan core capabilities yang sudah mereka miliki.
Kemudian, mereposisi produk, juga merupakan strategi yang dipilih beberapa perusahaan untuk menghasilkan revenue dengan tidak meninggalkan kompetensi inti perusahaan. Strategi ini banyak dipakai oleh perusahaan di bisnis restoran. Sementara itu, meningkatkan pangsa pasar, merupakan strategi bisnis yang cukup banyak mendapat perhatian dari perusahaan di industri komunikasi, perhotelan, penerbangan sipil, dll. Caranya menggenjot promosi melalui iklan, refocusing business, mengembangkan teknologi baru untuk meningkatkan kualitas produk maupun membuka gerai baru.
Berikutnya, penataan organisasi perusahaan, mencari dan menjaga tenaga kerja andal, meningkatkan kemampuan berinovasi, menyelaraskan karyawan dengan visi dan misi perusahaan dan melakukan akuisisi atau merger. Di luar itu, bisa jadi masih ada strategi lain yang ditempuh perusahaan untuk memenangkan persaingan di masa depan. Yang jelas, untuk eksis dan memenangkan persaingan di pentas bisnis masa depan, perusahaan tak cukup hanya menjalankan satu strategi bisnis saja, melainkan beberapa strategi yang saling terkait dan menunjang.
Jika perusahaan yang bisnisnya masih tumbuh harus bergulat menyusun strategi bisnis untuk mengembangkan pasarnya, tentu perusahaan di industri yang tengah mengalami stagnasi harus berjuang lebih keras lagi. Di industri otomotif misalnya, strategi yang paling menonjol adalah menjaga loyalitas pelanggan. Untuk menjaga loyalitas dan mempertahankan pelanggan, peningkatan kepuasan pelanggan menjadi prioritas utama bagi perusahaan tersebut.
Apapun strategi yang dijalankan perusahaan, seyogyanya tidak sekedar untuk mengatasi kesulitan yg sedang membelitnya, baik karena faktor internal maupun eksternal. Namun, strategi tersebut harus diorientasikan untuk menciptakan masa depannya sendiri. Terobosan-terobosan baru di bidang produksi, tak pelak lagi memang diperlukan untuk memenangkan persaingan di masa depan. Bisa jadi, itu memerlukan dana yang tidak kecil untuk investasi di SDM, pemasaran, teknologi, dan sebagainya.
Karena beratnya tantangan untuk memenangkan persaingan di masa depan sebaiknya perusahaan memfokuskan bisnisnya pada bisang tertentu yang menjadi kekuatannya. Ini memang sudah dilakukan sejumlah perusahaan, terutama pada saat krisis. Akan tetapi, perusahaan yang sekarang masih berjalan bagus perlu melakukan hal itu. Dengan bisnis yang terfokus, mereka bisa memastikan menjadi pemain yang serius di bidang itu. Juga, makin memudahkan pelaku bisnis melakukan hal terbaik untuk mempertahankan bisnisnya dari rongrongan pesaing.
Sumber : Majalah SWA Sembada

Tidak ada komentar:
Posting Komentar