Kamis, 08 Januari 2015

Memahami Bisnis Valuta Asing

Perdagangan Valuta Asing (Trading Forex) merupakan perdangan atau pertukaran mata uang asing. Trading forex bisa menjadi bisnis yang dapat menghasilkan uang tanpa melalui prosedur dan birokrasi yg rumit dan hasilnya pun tidak kena pajak. Jika dapat menjalankan dengan baik maka bisnis ini akan mampu mengurangi angka pengangguran di Indonesia. Pada dasarnya investasi dibagi menjadi 2 macam yaitu
  1. Investasi di sektor Riil
  2. Investasi di sektor Keuangan (Financial Investment)
Dulu sebagian besar pemilik modal lebih memilih menanamkan uangnya  di sektor riil, namun setelah krisis moneter menimpa Indonesia pada tahun 1998, para pemodal mulai beralih ke sektor financial. Trading forex (Perdagangan Valuta Asing) merupakan investasi pada sektor financial yg mempuyai peluang profit yg besar tetapi sekaligus memiliki risiko yg tinggi apabila tidak dikelola dengan baik sebab trading forex merupakan investasi yg memiliki pergerakan sangat cepat baik dalam hal likuiditas maupun pergerakan harganya.

Sebenarnya keberadaan trading forex telah lama ada, yakni sejak ditemukannya teknik mengonversi mata uang sebuah negara ke mata uang negara lainnya. Namun secara kelembagaan, trading forex ini baru ada setelah didirikannya badan arbitrase kontrak berjangka yaitu IMM (International Money Market). Mata uang yang kerap diperdagangkan di pasar forex misalnya Dolar Amerika (USD); Yen Jepang (JPY); Poundsterling Inggris (GBP) dan Euro (EUR). Semua mata uang ini diperdagangkan secara berpasang-pasangan, misalnya GBP/USD; EUR/USD; dan Seterusnya.
Keuntungan dari investasi ini diperoleh dari selisih nilai saat kita membeli dan menjual kembali mata uang negara yg kita perdagangkan, dan selisih itu timbul akibat terjadinya fluktuasi harga. Mungkin akan timbul pertanyaan di benak kita mengenai perbedaan trading forex dengan jual beli di money changer. Perbedaannya cukup besar yaitu :
  • Di pasar forex yg diperdagangkan mata uang negara-negara maju tetapi di money changer biasanya mata uang asing tersebut dipadankan dengan rupiah
  • Trading forex tidak memperdagangkan uang secara fisik sedangkan money changer terjadi pertukaran secara fisik mata uang
  • Trading forex dapat dijalankan dengan sistem margin atau jaminan.
Permasalahan bagi kalangan investor pemula adalah banyak dari mereka yg hanya melihat dari sisi keuntungannya saja, sementara sisi risikonya terabaikan. Hal ini telah membuat investor pemula mengalami kerugian.

Bisnis Valuta Asing atau forex secara online adalah bisnis yg membutuhkan waktu, pengalaman serta mental yg kuat. Banyak orang berpikir untuk menjadi ahli dalam bidang forex harus memiliki gelar master di bidang finance. Padahal untuk menjadi trader sukses tidak harus memiliki pendidikan tinggi tetapi mampu mengendalikan emosi dan menguasai analisis pasar. Berikut beberapa tip sukses dalam Trading Forex :
  • Rencanakan dahulu sebelum anda bertrading
  • Menentukan tren pergerakan harga
  • Fokuskan perhatian pada modal
  • Tahu kapan harus membatasi rugi
  • Ambil keuntungan saat perdagangan baik
  • Jadilah orang yang tak berperasaan (musuh utama trader adalah perasaan rakus dan takut)
  • Jangan trading karena sinyal dari teman atau broker saja
  • Buat catatan trading
  • Saat ragu-ragu jangan masuk pasar
  • Jangan melebihi kemampuan anda untuk trading 
Banyak sekali trader yg berharap dapat meminimalkan kerugian transaksi forex mereka dengan berbagai cara, namun seringkali tidak efektif. Berikut ini beberapa tips menghindari kerugian dalam transaksi forex : 

1. Overtrading/oversizing (melakukan transaksi yg berlebihan dari dana yg dimiliki)
     Anda perlu memperhitungkan dengan cermat berapa sebaiknya jumlah lot yg ditransaksikan. 10% dari dana yg dimiliki setiap masuk posisi merupakan salah satu cara yg baik.

2. Memahami efek dari suatu berita (fundamental)
     Sabgat penting bagi trader untuk memahami dengan jelas berita yg akan diumumkan dan mencari tahu bagaimana pasar mengantisipasinya.

3. Tidak bergantung pada Orang Lain
     Trader yg berhasil adalah trader yg mengandalkan kemampuannya sendiri sehingga dapat mengetahui apakah analisisnya efektif atau tidak.

4. Over Convident
     Terlalu percaya diri sangat berbahaya karena adakalanya kita tidak tahu persis apa yg terjadi di pasar karena terlalu banyak faktor yg mempengaruhinya.

5. Gunakan Stop Loss
     Ada dilema yg harus dialami trader dalam bertransaksi di forex, ketika posisi mereka menyentuh stop loss, harga berbalik ke arah yg sudah mereka prediksi semula. Namun banyak kasus membuktikan bahwa tanpa stop loss maka kerugian trader bisa sangat tak terbatas.
6. Sistem Trading yang sederhana
     Ada kecenderungan bahwa semakin banyak indikator yang kita gunakan dalam chart akan lebih banyak sinyal yang kita peroleh.tapi kenyataaannya,semakin banyak indikator membuat kita bingung karena masing masing memberi sinyal yang berbeda.menggunakan  2 atau 3 indikator dapat mempermudah kita masuk pasar.
7. Sistem Automated trading
     Banyak trader forex terlalu yakin dengan sistem robot trading tertentu sehingga tidak melakukan intervensi sedikitpun.masalah mulai timbul ketika tren pasar berubah.karena itu,kontrol terus sistem robaot yang digunakan dalam transaksi forex.
8. Trading by Moment
     Tidak perlu setiap hari masuk pasar.ambil posisi saat anda melihat momen yang cocok untuk masuk.jika tidak ada momen,lebih baik berdiam diri seraya terus memantau pasar.
9. Jangan Pernah Berhenti Belajar
     Para pemula sering sekali menganggap mudah bertransaksi forex sehingga tidak mau lagi meluangkan waktu untuk belajar.padahal,dengan terus belajar maka anda akan mengetahui lebih jelas seluk-beluk transaksi di forex.

 

Minggu, 04 Januari 2015

Pengaruh Struktur Gaji Terhadap Kelangsungan Dunia Usaha



        Banyak hal yang masih menjadi tanda tanya dan keraguan bagi para pemilik modal atau investor untuk membuka bisnis di Indonesia. Seperti rumitnya perizinan usaha, kebijakan pemerintah yang berpengaruh terhadap dunia bisnis, serta ketidakstabilan politik di dalam negeri. Suasana atau iklim investasi di Indonesia dinilai tidak kondusif oleh para investor khususnya mengenai struktur gaji para karyawannya. Setiap tahun pasti terjadi perdebatan antara pemerintah, pengusaha dan para buruh mengenai besarnya gaji. Dari kacamata Pengusaha, Upah buruh yang tinggi akan sangat berpengaruh terhadap perusahaan karena akan menambah beban operasional sehingga bisa mengurangi laba. Akan tetapi apabila dilihat dari sisi karyawan gaji harus sesuai dengan biaya hidup layak. Jadi peran pemerintah sangat diharapkan untuk menyelesaikan masalah gaji tersebut. Misalnya memberi insentif kepada perusahaan untuk mengurangi beban operasional perusahaan, mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan pengusaha dan buruhnya.

       Memberikan upah kepada karyawan atas pekerjaannya merupakan kewajiban perusahaan. Upah yg diberikan untuk suatu jabatan idealnya tidak terlalu berbeda jauh untuk menghindari ketidakadilan antara karyawan pada jabatan yg sama. Karyawan membandingkan kualifikasi dirinya seperti pendidikan dan pengalaman, dengan upah terbaik yg bisa diperolehnya. Untuk melindungi pekerja/buruh, pemerintah menetapkan upah minimum yang sering disebut Upah Minimum Regional (UMR). Penetapan upah minimum berdasarkan Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Nilai KHL diperoleh melalui survei yg dilakukan oleh tim yg terdiri dari Dinas Tenaga Kerja, Serikat Pekerja, dan APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia). Perhitungan KHL selalu menimbulkan ketidakpuasan antara pihak pengusaha dengan buruh. Semua memiliki pandangan masing-masing.

      Pekerja menginginkan upah yg tinggi karena biaya hidup perbulannya sering berubah dikarenakan adanya kebijakan baru dari pemerintah. Misalnya Pemerintah menaikkan harga BBM sehingga menyebabkan harga semua barang naik akibatnya biaya hidup bertambah tetapi gaji yg diperoleh tetap. Untuk itu para buruh menginginkan gaji yg lebih tinggi sehingga bisa menutupi kekurangan dari biaya hidup tersebut. Hal ini dikarenakan UMR berlaku selama 1 tahun. Keinginan buruh selalu bertolak belakang dengan keinginan para pengusaha karena para pengusaha menginginkan gaji yg rendah agar beban operasionalnya rendah.Perusahaan sering menuntut kenaikan upah seiring dengan peningkatan produktivitasnya. Namun, pekerja yg merasa memiliki posisi tawar yg lebih lemah cenderung lebih suka memberikan tekanan kepada pemerintah agar menekan pengusaha ketimbang berunding langsung dengan pengusaha. Akibatnya pengusaha menjadi pasif hanya menunggu keputusan kenaikan nilai UMR daripada melakukan negosiasi gaji dengan wakil pekerja. Banyaknya tuntutan kepada pengusaha melalui peraturan pemerintah seperti UMR dan program bina lingkungan menimbulkan celetukan fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh pengusaha. Untuk itu dibutuhkan peran pemerintah yg netral tanpa merugikan pihak manapun.

       Pemerintah harus bisa melindungi Perusahaan-perusahaan kecil yg merasa terbebani dalam masalah gaji tersebut. Pemerintah harus bisa mengambil kebijakan yg baik untuk kelangsungan perusahaan kecil misalnya memberikan pinjaman dengan bunga yg rendah sebagai modal, membangun infrastruktur yg baik sehingga mengurangi biaya transportasi perusahaan. Selain peran pemerintah, hubungan yg harmonis antara pengusaha dan pekerja juga sangat penting. Harmoni yg dibangun dengan saling menghargai merupakan dasar hubungan yg harmonis. Namun demikian ternyata iklim hubungan industrial di Indonesia masih dibayangi oleh konfrontasi antara pengusaha dan pekerja.

Kamis, 01 Januari 2015

Manajemen Risiko dalam Bisnis



      Pertumbuhan bisnis suatu usaha yang kita jalankan tidak lepas dari ketidakpastian, baik yang menghasilkan keuntungan maupun yang berdampak pada kerugian atau hilangnya kesempatan mendapatkan keuntungan. Saat membuat perencanaan strategis, kita harus dapat memetakan ancaman kondisi eksternal yang dapat menghambat pencapaian sasaran bisnis kita dan membuat strategi untuk mengatasinya. Dalam mengidentifikasi ancaman dari kondisi eksternal tersebut, tidak semua kemungkinan terjadinya kerugian dapat diidentifikasi sebagai ancaman karena akan mengakibatkan strategi dan sumber daya yang kita gunakan akan terbuang dan tidak fokus untuk menangani beragam ancaman.

      Proses manajemen risiko meliputi identifikasi risiko, analisis risiko, penilaian risiko, perlakuan terhadap risiko dan pengawasan risiko. Dengan melakukan penilaian dan klasifikasi risiko tersebut maka akan mudah bagi kita untuk mengelola dan menanganinya sesuai dengan proporsinya. Proses manajemen risiko membangun dasar kebijakan penanganan risiko sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kita. Penanganan risiko bertujuan untuk mengurangi tingkat risiko dari sisi dampaknya maupun kemungkinan terjadinya.

Secara umum risiko yang akan kita hadapi dalam menjalankan sebuah bisnis mencakup risiko keuangan dan risiko operasional. Setiap orang menyadari keberadaan risiko keuangan karena akan berdampak pada potensi kerugian uang. Namun banyak orang tidak memahami pentingnya manajemen risiko operasional.

Risiko Keuangan

Risiko keuangan adalah risiko yang terkait dengan kejadian yang berdampak pada keuangan perusahaan, seperti risiko pasar dan risiko likuiditas.
Risiko Pasar adalah risiko yang terjadi akibat pergerakan harga pasar yang berdampak pada keuangan perusahaan mencakup naik turunnya suku bunga, kurs mata uang, harga saham dan harga komoditas.
Risiko Likuiditas adalah risiko yang berdampak pada kemampuan pendanaan dan memenuhi kewajiban pembayaran.

Risiko Operasional

Risiko Operasional adalah risiko yang berdampak pada hasil-hasil proses bisnis sehingga tidak sesuai dengan target yang diharapkan.
Risiko Operasional terkait dengan risiko kehilangan dan kerugian akibat kegagalan proses, personel, sistem serta kejadian eksternal seperti bencana atau kecelakaan.

Proses Manajemen Risiko

Manajemen Risiko adalah suatu pendekatan terstruktur dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan bahaya, akibat atau konsekuensi yang dapat terjadi. Secara praktis manajemen risiko merupakan proteksi ekonomis terhadap kerugian yang mungkin timbul atas aset dan pendapatan suatu perusahaan.

Identifikasi Risiko 
Identifikasi risiko dilakukan dengan menentukan sasaran kinerja, menentukan aktifitas-aktifitas untuk pencapaiannya, potensi risiko dan sumber/penyebab risiko.
Tujuan Identifikasi risiko yaitu untuk membuat daftar potensi risiko yang dapat mempengaruhi pencapaian sasaran

Analisis Dampak
Tiap-tiap risiko mempunyai dampak yang berbeda-beda. Ada risiko yang hanya berpotensi menyebabkan kerugian yg relatif kecil (misalnya pencurian salah satu produk) dan risiko yang berpotensi menyebabkan hilangnya kemampuan produksi (misalnya kebakaran).
Untuk membedakan dampak berbagai risiko tersebut maka perlu dibuat tingkat dampak risiko sehingga akan mempermudah pengelolaan risiko.

Analisis Kemungkinan
 Suatu risiko belum tentu terwujud menjadi suatu kejadian. Ada risiko yang kemungkinan besar tidak terjadi dan risiko yang terjadi berulang-ulang. Oleh karena itu, agar suatu risiko lebih mudah dikelola perlu dibuat tingkatan kemungkinan terjadinya suatu risiko.

Penilaian Risiko
Penilaian tinggi rendahnya suatu risiko berdasarkan pada dampak yang ditimbulkan dan tingkat kemungkinan terjadinya. Suatu risiko tinggi tidak hanya bersumber dari timbulnya kejadian yg berdampak kerugian besar tetapi suatu kejadian yang bernilai kerugian sedang tapi sering terjadi juga merupakan suatu risiko tinggi.

Perlakuan terhadap Risiko
Setelah potensi risiko diidentifikasi dan dinilai tingkat risikonya, maka perlu diambil keputusan bagaimana memperlakukan risiko tersebut. Alternatif perlakuan terhadap risiko antara lain :Memindahkan risiko, mengurangi risiko, membiarkan risiko dan menerima risiko.

Pengawasan Risiko
Setelah risiko teridentifikasi, terukur dan dipilih tindakan perlakuan setiap risiko, selanjutnya dilakukan pengawasan terhadap implementasinya. Pengawasan difokuskan pada hasil perlakuan risiko terhadap perubahan tingkat risiko. Perlu dipastikan dampak dari perlakuan risiko terhadap risiko tersebut, apakah setelah dilakukan mitigasi risiko terjadi penurunan tingkat risiko dengan memperhatikan penurunan tingkat frekuensi kejadian dan dampak yang diakibatkan.
Misalnya apakah setelah dilakukan pemeliharaan secara harian maka frekuensi mesin produksi terhenti secara tiba-tiba dapat menurun dari setiap mingguan menjadi setiap bulanan (terjadi perubahan atau tidak)